I.
PENDAHULUAN
Di antara ulama
tidak seragam dalam menyusun periodesasi pertumbuhan dan perkembangan Hadits
ini. Ada yang membaginya kepada tiga periode saja, seperti masa Rasulullah SAW,
sahabat dan tabi’in, masa pen-tadwin-an, dan masa
setelah tadwin. Ada yang membaginya kepada periodesasi yang lebih terperinci,
sampai lima atau tujuh periode, dengan spesifikasi tertentu.
Terlepas dari
pendapat para ulama tentang periodesasi yang dikemukakan di atas, yang perlu
diuraikan secara khusus pada pembahasan di sini, ialah masa Rasul SAW, masa
sahabat, masa tabi’in, masa pentadwinan atau pembukuan, masa seleksi atau
penyaringan Hadist, serta masa sesudahnya.
Oleh karena
itu, dalam makalah ini akan dikemukakan sejarah pertumbuhan dan pembinaan ilmu hadits masa
nabi,sahabat dan tabiin.
II.
RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana
karakteristik pertumbuhan dan pembinaan ilmu hadits pada masa Nabi masih hidup,
pada masa sahabat, dan pada masa tabiin?
B. Bagaimana
perbedaan antara pertumbuhan dan pembinaan ilmu hadits pada masa Nabi, masa
Sahabat, dan masa tabiin?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik
pertumbuhan dan pembinaan ilmu hadits pada masa Nabi masih hidup, pada masa
sahabat, dan masa tabiin.
1. Hadits pada masa Rasul SAW
Periode
Rasul SAW, merupakan periode pertama sejarah pertumbuhan dan perkembangan
hadits. Periode ini terhitung cukup singkat bila dibandingkan dengan masa-masa
berikutnya. Masa ini berlangsung selama 23 tahun, mulai tahun 13 SH, bertepatan
dengan tahun 610 M sampai dengan tahun 11 H, bertepatan dengan tahun 632 M.
masa ini merupakan kurun waktu turun wahyu (ashr al-wahyi) dan sekaligus
sebagai, masa pertumbuhan hadits.
Membicarakan
hadits pada masa Rasul SAW berarti membicarakan hadits pada awal
pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul
SAW sebagai sumber hadits.
Wahyu yang
diturunkan Allah SWT kepadanya dijelaskan-nya melalui perkataan (aqwal),
perbuatan (af’al) dan penetapan (taqrir)-nya. Sehingga apa yang didengar,
dilihat dan disaksikan oleh para sahabat merupakan pedoman bagi amaliah dan ubudiyah mereka. Rasul SAW merupakan
contoh satu-satunya bagi para sahabat, karena ia memiliki sifat kesempurnaan
dan keutamaan selaku Rasul Allah SWT yang berbeda dengan manusia lainnya.[1][1]
Rasul hidup
di tengah-tengah masyarakat sahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengan
beliau secara bebas. Tidak ada ketentuan protokol yang menghalangi mereka
bergaul dengan beliau. Yang tidak di benarkan, hanyalah mereka langsung masuk
ke rumah Nabi, ketika beliau tidak ada di rumah, dan berbicara dengan para
istri Nabi tanpa hijab. Nabi SAW bergaul dengan mereka di rumah, di
masjid, di pasar, di jalan, dan di dalam safar dan di dalam hadhar. [2][2]
a.
Cara rasul SAW menyampaikan hadits
Allah menurunkan
al-Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad SAW
sebagai utusan-Nya adalah sebuah paket yang tidak dapat dipisah-pisahkan, da
apa-apa yang disampaikannya juga merupakan wahyu. Allah berfirma dalam
menggambarkan kondisi utusan-Nya tersebut.
وَمَا يَنْتِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ
هُوَ إِلّاَ وَحيٌ يُوْحَى (النجم:٣-٤)
“Dan tiadalah yang
diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya).” (QS.An-Najm: 3-4)
Ada beberapa cara
rasul SAW menyampaikan hadits kepada para sahabat, yaitu :
Pertama, melalui para jama’ah pada pusat pembinaannya yang disebut majlis
al-‘ilmi. Kedua, dalam banyak kesempatan Rasul SAW juga menyampaikan
hadisnya melalui para sahabat tertentu, yang kemudian disampaikannya kepada
orang lain. Ketiga, cara lain yang dilakukan Rasul SAW adalah melalui
ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan futuh
makkah.
b. Perbedaan
para sahabat dalam menguasai hadits
Pertama, perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasul SAW. Kedua, perbedaan
mereka dalam soal kesanggupan bertanya kepada sahabat lain. Ketiga, perbedaan
mereka karena berbedanya waktu masuk islam dan jarak tempat tinggal dari masjid
Rasul SAW.
c. Menghafal
dan Menulis Hadist
1) Menghafal Hadist
Ada dorongan kuat
yang cukup memberikan motivasi kepada para sahabat dalam kegiatan menghafal
hadist. Pertama, karena kegiatan menghafal merupakan budaya bangsa Arab
yang telah diwarisinya sejak praIslam dan mereka terkenal kuat hafalannya. Kedua,
Rasul SAW banyak memberikan spirit melalui doa-doanya, Ketiga, seringkali
ia menjanjikan kebaikan akhiratkepada mereka yag menghafal hadist dan
menyampaikannya kepada orang lain.
2) Menulis
Hadist
Ditemukan sejumlah
sahabat yang memiliki catatan-catatan dan melakukan penulisan terhadap hadis
dan memiliki catatan-catatannya,ialah :
a. Jabir
ibn Abdillah ibn Amr Al-Anshari (w.78H). ia memiliki catatan hadist dari Rasul
SAW tentang manasik Haji. Hadis-hadisnya kemudian diriwayatkan oleh Muslim.
Catatannya ini dikenal dengan Sahifah Jabir.
b. Abu
Hurairah Al-Dausi (w.59 H). ia memiliki catatan hadis yag dikenal dengan Al-Sahifah
Al-Sahihah. Hasil karyanya ini diwariskan kepada anaknya bernama Hammam.
c. Mempertemukan
Dua Hadist yan Bertentangan
Dengan melihat dua
kelompok hadist yang kelihatnnya terjadi kontradiksi, seperti pada hadist dari
Abu Sa’id Al-Hudri di satu pihak, dengan hadist dari Abdullah ibn Amr ibn
al-‘Ash, di pihak lain, yang masing-masing didukung oleh hadist-hadist lainnya,
mengundang perhatian para ulama untuk menemukan penyelesainnya. Di antara
mereka ada yang mencoba dengan menggugurkan salah satunya, seperti dengan jalan
nasikh dan mansukh, dan ada yang berusaha mengkompromikan
keduanya, sehingga keduanya tetap di gunakan (ma’mul).[3][3]
2. Hadits pada masa Sahabat
Periode
kedua sejarah perkembangan hadits adalah masa sahabat, khususnya masa khulafa’
Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi
Thalib) yang berlangsung sekitar tahun 11 H sampai dengan 40 H. Masa ini juga
disebut dengan masa sahabat besar. Karena pada masa ini perhatian para sahabat
masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-Qur’an, maka periwayatan
hadits belum begitu berkembang, dan kelihatannya berusaha membatasinya. Oleh
karena itu, masa ini oleh para ulama dianggap sebagai masa yang menunjukka
adnya pembatasan periwyatan (al-tasabbut wa al-iqlal min al-riwayah).
a. Memelihara Amanah Rasul SAW
Para sahabat, sebagai generasi pertama yang menerima amanah terbesar
bagi kelangsunga syariat Islam, adalah menerima dan melakukan segala amanah
Rasulullah. Amanah itu essensinya tertuang pada al-Qur’an dan Hadist,
sebagaimana Rasul berpesan :
(رواه البخارى) بَلِّغواعَنِّي وَلَوْآيَة
“Sampaikanlah dariku, walaupun
satu ayat” (HR.Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash)
b.
Kehati-hatian
para sahabat dalam menerima dan meriwayatkan hadist
Setelah
Rasul SAW wafat, perhatian para sahabat terfokus pada usaha menyebarluaskan dan
memlihara al-Qur’an. Al-Qur’an yang telah dihafal oleh ribuan penghafalnya
denga teratur dan telah ditulis dalam berbagai shuhuf noleh para penulisnya (baik untuk Nabi SAW sendiri maupun
untuk kepentingan masing-masing), mendapat prioritas utama untuk terus
disebarkan ke berbagai pelosok wilayah islam dan ke seluruh lapisa masyarakat.
Kehati-hatian
dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan
para sahabta, disebabkan karena mereka khawatir terjadinya kekeliruan,
yang padahal mereka sadari bahwa Hadis merupakan sumber ajaran setelah
al-Qur’an yang juga harus tetap terpelihara dari kekeliruannya sebagaimana
terpeliharanya al-Qur’an. Oleh karenanya para sahabat khususnya khulafa’ ar-rasyidin (Abu Bakar, Umar,
Usman, dan Ali) dan sahabat lainnya, seperti
az-Zubair, Ibn Abbas, dan abu Ubaidah berusaha memperketat periwayatan
dan penerimaan Hadist.
c.
Upaya para
ulama men-taufiq-kan Hadist tentang
larangan menulis Hadist
Perselisihan para ulama dalam
soal pembukuan Hadist berpangkal pada adanya dua kelompok Hadist, yang dari
sudut zhahirnya namapak adanya kontradiksi. Kelompok Hadist yang pertama,
menunjukkan adanya larangan Rasul SAW menuliskan Hadis yang artinya :
“Janganlah kamu sekalian menulis apa saja
dariku selain al-Qur’an. Siapa yang telah menulis dariku selain al-Qur’an
hendaklah dihapus. Ceritakan saja apa yang dterima dariku, itu tidak mengapa.
Siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, ia niscaya menempati tempat
duduknya dari api neraka.”
Sedangkan
hadist kelompok kedua, adalah beberapa hadist, seperti riwayat Abdullah bin Amr
bin al-‘Ash. Hadist-hadist tersebut menunjukkan adanya perintah Rasul SAW untuk
menuliskan hadis-hadis daripadanya.[4][4]
3. Hadist pada masa Tabiin
a.
Masa
Keseimbangan dan Meluas Periwayatan Hadist
Sesudah masa Utsman dan Ali,
timbullah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghafal hadits serta
menyebarkannya ke masyarakat luas dengan mengadakan perlawata-perlawatan untuk
mencari hadits.
Pada tahun 17 H, tentara islam
mengalahkan Syiria dan Iraq. Pada tahun 20 H mengalahkan Mesir. Pada tahun 21 H
mengalahkan Persia. Pada tahun 56 H tentara islam sampai di Samarqand. Pada
tahun 93 H tentara islam menaklukkan Spanyol. Para sahabat berpindah ke
tempat-tempat itu. Kota-kota itu kemudian menjadi “perguruan” tempat mengajarkan
al-Qur’an dan al-Hadits yang menghasilkan sarjana-sarjana tabi’in dalam
bidang hadits.[5][5]
b.
Lawatan Para
Sahabat untuk Mencari Hadits
Dalam fase ini, hadits mulai
disebarkan dan mulailah perhatian diberikan terhadapnya dengan sempurna. Para tabi’in
mulai memeberikan perhatian yang sempurna kepada para sahabat. Para tabi’in
berusaha menjumpai para sahabat ke tempat-tempat yang jauh dan memindahkan
hafalan mereka sebelum mereka berpulang ke Ar-Rafiq al-A’la (sebelum
meninggal). Demikian pula berita tentang kunjungan seorang shahaby ke
sebuah kota, sungguh menarik perhatian para tabi’in. Ketika mengetahui
kedatangan seorang shahaby, mereka berkumpul di sekitarnya untuk
menerima hadits yang ada pada shahaby tersebut.
c.
Sahabat-sahabat yang mendapat
julukan “Bendaharawan Hadist”
Dalam
fase ini terkenal beberapa orang sahabat dengan julukan “bendaharawan hadits”,
yakni orang-orang yang riwayatnya lebih dari 1000 hadits. Mereka memperoleh
riwayat-riwayatnya yang banyak itu karena:
Pertama, yang paling awal masuk islam,
seperti Khulafa’ Rasyidin dan Abdullah ibn Mas’ud. Kedua, terus-menerus
mendampingi Nabi SAW dan kuat hafalan, seperti Abu Hurairah. Ketiga, menerima
riwayat dari sebagian sahabat selain mendengar dari Nabi SAW dan panjang pula
umurnya. Keempat, lama menyertai Nabi SAW dan mengetahui keadaan-keadaan
Nabi SAW. Kelima, berusaha untuk mencatatnya,seperti Abdullah ibn Amr
ibn Ash. Beliau meriwayatkan hadits dalam buku catatananya yang dinamai Ash-Shadiqah.[6][6]
B. Perbedaan antara pertumbuhan dan
pembinaan ilmu hadits pada masa Nabi, masa Sahabat, dan masa tabiin.
a.
Masa Nabi
Ada suatu
keistimewaan pada masa ini yang membedakan dengan masa lainnya, Yaitu dari cara
penyampaian nya. Umat islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh
hadits dari Rasul SAW sebagai sumber hadits , antara Rasul dengan mereka tidak
ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuannya.
Pembinaan
hadits pada masa ini dilakukan dengan cara dihafalkan. Nabi melarang para
sahabat menuliskan hadits yang mereka dengar karena Nabi khawatir dalam catatan
sebagian sabda Nabi akan tercampur dengan firman Allah ( Al Qur’an ) yang pada
saat itu Al Qur’an lebih mendapat perhatian penuh dalam penulisannya.
Di riwayatkan oleh
Muslim dari Abu Said al-khudary bahwa
Nabi saw bersabda :
الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ غَيْر عَنِّي كَتَبَ وَمَنْ الْقُرْآنِ لاَتَكْتُبُوْاعَنِّيْ غَيْرَ
“ Jangan kalian tulis apa yang engkau dengar dariku,
selain dari Al Qur’an. Barang siapa yang telah menulis sesuatu selain dari Al
Qur’an , hendaklah dihapuskan. “
Maka dari itu
pada masa ini Rasul lebih menekankan pada hafalan para sahabat dalam
penyampaian hadits kepada umat.[7][7]
b. Masa Sahabat
Cara
penyampaian hadits pada masa ini adakalanya secara langsung atau tidak
langsung. Yang dimaksud secara langsung disini ialah para sahabat langsung
mendengar sendiri dari Nabi SAW , baik itu karena adanya persoalan yang
diajukan oleh seseorang kemudian Nabi menjawab atau bahkan Nabi sendirilah yang
memulai pembicaraan . sedangkan yang secara tidak langsung ialah ketika mereka
menerima hadits itu melalui sahabat yang telah menerima dari Nabi SAW.
Pembinaan
hadits pada masa ini dilakukan selain dengan cara dihafalkan, selain itu
juga ditulis pada pelepah daun, seperti
pelepah kurma dan dipohon-pohon.Diberitakan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzy dari
riwayat Zaid ibn Tsabit, bahwa Rasul bersabda :
فَأَدّاَهَا وَوَعَاهَا
فَحَفظَهَا مَقَالَتي مِنّيْ سَمِع اَ
مْرأً نَضَرَاللَّه
سَامِعٍ مِنْ كمَاسمِع فرُبَّ مُبَلّغِ
أوْعَيْ
“ Mudah-mudahan Allah mengindahkan
seseorang yang mendengar ucapanku, lalu dihafalkan dan dipahamkan dan
disampaikan kepada orang lain persis sebagaimana yang dia dengar karena banyak
sekali orang yang disampaikan berita kepadanya, lebih paham daripada yang mendengarnya
sendiri”.[8][8]
Para sahabat membuka jalan mencari hadits kepada umat
sendiri. Mereka mengumpulkan sekedar kesanggupannya. Dengan demikian pula
tersusunlah segala sunnah. Lantaran itu, ada yang dapat dinukilkan hakikat
lafal yang diterima dari Rasul saw, dan
sunnah-sunah yang bersih dari illat ( cacat ), ada yang hanya dihafal
maknanya , telah dilupakan lafalnya dan ada yang berselisih riwayat dalam
menukilkan lafal-lafalnya dan berselisih pula perawinyatentang kepercayaan dan
keadilan pemberitaannya. Itulah sunnah-sunnah yang dimasuki illah.
Diantara para sahabat tidak sama kadar perolehan dan
penguasaan hadits. Ada yang memilikinya lebih banyak , tetapi ada yang sedikit
sekali. Hal ini tergantung kepada beberapa hal. Pertama , perbedaan
mereka dalam soal kesempayan bersama Rasul SAW. Kedua , perbedan merka
dalam soal kesanggupan bertanya kepada sahabat lain. Ketiga , perbedaan
mereka karena berbedanya waktu masuk islam dan jarak tempat tinggal dari masjid
Rasul SAW.[9][9]
c.
Masa Tabiin
Sesudah masa
Utsman dan Ali, timbullah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghafal
hadits serta menyebarkannya ke masyarakat
luas dengan mengadakan perlawatan-perlawatan untuk mencari hadits. [10][10]
Dalam fase ini , hadis mulai disebarluaskan dan mulailah
perhatian diberikan kepadanya dengan sempurna. Para tabiin mulai memberikan
perhatian yang sempurna kepada para sahabat. Para tabiin berusaha menjumpai
para sahabat ke tempat-tempat yang jauh dan memindahkan hafalan mereka sebelum
mereka berpulang ke Ar-Rafiq al-A’la ( sebelum meninggal ). [11][11]
Sebagaimana para sahabat , dikalangan tabiin , baik tabiin
besar maupun tabiin kecil ,juga melakukan dua hal yaitu : menghafal dan menulis
hadits. Banyak riwayat yang menunjukan bahwa mereka memperhatikan kedua hal
ini.[12][12]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat kami
simpulkan bahwa karakteristik pertumbuhan dan pembinaan ilmu hadits dari masa Nabi sampai masa tabiin mengalami pasang
surut. Yaitu ada yang menggunakan metode hafalan, metode penyampaian dari
sahabat ke sahabat lainnya, dan juga metode pembukuan. Masing- masing metode
ini terus berkembang seiring perkembangan zamannya.
Selanjutnya perbedaan pertumbuhan dan
pembinaan ilmu hadits banyak di pengaruhi keadaan lingkungan sosial, budaya dan
politik pada masanya serta kebutuhan umat Islam akan perlunya ilmu hadits.
Demikianlah
makalah ini kami buat , meskipun belum mencapai kesempurnaan. Selebihnya harapan kami, bisa ditambahkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Kami
ucapkan Alhamdulillahirabbil‘alamin, puji syukur Allah telah terselesaikan Tugas makalah kami.
Semoga dapat bermanfaat bagi pemakalah
khususnya dan pembaca umumnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.
3 Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu
Hadits, hlm.26
[5][5] Drs.Munzier
Suparta, MA, Ilmu Hadis,halm.71
6
Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi
ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, hlm.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar