Selasa, 31 Maret 2015

makalah PENGAWASAN DAN EVALUASI



PENGAWASAN DAN EVALUASI


I.                   PENDAHULUAN

Menejemen merupakan sebuah subyek yang sangat penting karena mempersoalkan usaha penetapan serta pencapaian sasaran-sasaran.  Dan manajemen menyentuh serta mempengaruhi kehidupan hampir semua manusia. Menejemen menyebabkan bahwa kita menyadari kemampuan-kemampuan kita; dengan menunjukkan cara kearah pelaksanaan pekerjaan yang lebih baik. Fungsi fundamental keempat, manajemen yang akan di bahas adalah pengawasan. Pengawasan memang mengalami perubahan tetapi tidaklah seperti halnya fungsi-fungsi fundamental lainnya.
Pengawasan dianggap sebagai aktivitas untuk menemukan, mengoreksi penyimpangan-penyimpangan penting dalam hasil yang dicapai dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan. Wajar apabila terdapat adanya kekeliruan tertentu,kegagalan dan petunjuk yang tidak efektif hingga terjadi penyimpangan yang tidak diinginkan daripada tujuan yang dicapai. Maka oleh karennya fungsi pengawasan perlu dilakukan.


II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian dari pengawasan ?
2.      Bagaimana proses pengawasan ?
3.      Apakah sistem informasi dan Pengawasan ?
4.      Apa alat evaluasi ?



  


III.             PEMBAHASAN
A.  Pengertian Pengawasan
Pengawasan adalah proses yang menjamin bahwa semua kegiatan yang dilakukan oleh organisasi dituntun ke arah pencapaian sasaran atau target yang direncanakan.[1] Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai.
Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi.[2]  Dalam arti manajemen yang diformalkan tidak akan terdapat tanpa adanya perencanaan, pengorganisasian dan menggerakkan sebelumnya.[3] Pengawasan tidak dapat terjadi dalam sebuah vakum. Ia berkaitan dengan dan ia merupakan bagian daripada output ketiga macam fungsi fundamental manejemen lainnya.
Pengawasan dapat berarti juga mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana.[4]
Pengawasan merupakan suatu faktor penunjang penting terhadap efisiensi organisasi, demikian juga pada perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Pengawasan merupakan suatu fungsi yang positif dalam menghindarkan dan memperkecil penyimpangan-penyimpangan dari sasaran-sasaran atau target yang telah direncanakan.
Pengawasan dilaksanakan untuk mengusahakan agar komitmen-komitmen tersebut dilaksanakan. Kegiatan pengawasan berarti cepat atau lambat adanya kegagalan perencanaan-pereancanaan dan suksesnya perencanaan berarti suksesnya pengawasan.
Dari penjelasan di atas bahwa pengawasan dalam manajemen pendidikan adalah suatu proses dimana untuk memajukan suatu organisasi agar mencapai target yang di inginkan.


B.            Proses Pengawasan



Pada bagian atas kiri langkah-langkah berurutan dimulai. Pengawasan terdiri daripada suatu proses yang dibentuk oleh tiga macam langkah-langkah yang bersifat universal yakni :
1.      Mengukur hasil pekerjaan
Apabila kita kembali pada proses pengawasan, maka seperti sudah dikatakan, langkah pertama dalam hal megukur hasil pekerjaan mulai dengan mempersoalkan problem-problem pengukuran. Pengukuran adalah tindakan memastikan jumlah atau kapasitas sesuatu entitas yang digariskan dengan baik.
Dalam rangka usaha mengukur sebuah entitas, senantiasa timbul persoalan, ciri-ciri apa yang perlu dipertimbangkan. Pada umumnya entitas yang sedang diukur dapat diklasifikasikan kedalam dua buah kelopmok yakni :
a)      Yang berhubungan dengan pelaksanaan sebuah program lengkap atau pelaksanaan suara total.
b)      Yang mempersoalkan output per unit tenaga kerja langsung yang dipergunakan.[6]
 Metode dan teknik koreksinya dapat dilihat/ dijelaskan klasifikasi fungsi-fungsi manajamen : 1) perencanaan : garis umpan balikproses manajemen dapat berwujud maninjau kembali rencana menubah tujuan atau mengubah standar. 2) pengorganisasian : memeriksa apakah struktur organisasi yang ada itu cukup sesuai dengan standar, dan apakah diperlukan penataan kembali orang-orang. 3) penataan staff : memperbaiki sistem seleksi, memperbaiki sistem latihan dan menata kembali tugas-tugas,4) pengarahan : mengembangkan kepemimpinan yang lebih baik meningkatkan motivas, menjelaskan pekerjaan yang sukses, penyadaran akan tujuan yang secara keseluruhan apakah kerja sama antara pimpinan dana anak buah berada dalam standar.[7]
2.      Membandingkan hasil pekerjaan dengan standard dan memastikan perbedaan (apabila ada perbedaan)
Langkah yang kedua proses pengawsan terdiri dari tindakan: membandingkan hasil pekerjaan dengan standard. Hal tersebut pada dasarnya berarti mengevaluasi hasil pekerjaan. Penentuan standar mencakup kriteria untuk semua lapisan pekerjaan (job performance) yang terdapat dalam suatu organisasi. Standar ialah kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan. Kriteria tersebut dapat dalam bentuk kuantitatif  ataupun kualitatif. Standar pelaksanaan (standard performance) ialah suatu pernyataan mengenai kondisi-kondisi yang terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan secara memuaskan.Umumnya standar pelaksanaan pekerjaan bagi suatu aktivitas menyangkut kriteria: ongkos, waktu, kuantitas, dan kualitas.[8]
Maka oleh karenanya, manejer yang melaksanakan pekerjaan pengawasan harus menganalisa-mengevaluasi-dan menilai hasil sebaik-baik mungkin. Dalam hal membandingkan hasil pekerjaan dengan dasar pengawasan diperlukan saran-saran dari pihak yang melaksanakan pekerjaan atau mereka yang dekat dengannya guna memperoleh petunjuk-petunjuk tentang usaha-usaha pengawasan apa harus dilakukan bersifat penting. 
3.      Mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan.
Hal tersebut langkah ketiga dan terakhir daripada proses pengawasan. Dapat dianggap sebagai tindakan memaksa agar operasi-operasi disesuaikan atau dilakukannya usaha-usaha untuk mancapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.  Apabila diketemukan penimpangan-penyimpangan penting maka tindakan-tindakan cepat dan efektif merupakan suatu keharusan. Tindakan koreksi dilaksanakan oleh pihak yang memilih kekuasaan atas hasil pekerjaan aktual. Agar dapat dicapai efektivitas maksimal, maka tindkan mengoreksi penyimpangan harus diikuti dengan tanggung jawab tetap dan tanggung jawab individual.
Menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada seorang individu atas pekerjaanya merupakan slah satu alat terbaik untuk mencapai hasil sesuai dengan harapan. Hal tersebut menjadi tugas orang tersebut, tanggung jawabnya untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang perlu untuk mencapai hasil pekerjaan yang memuaskan dan orang tersebut bertanggung jawab untuk melakukan koreksi yang dianngap perlu.
Dengan cara yang agak berbeda dapat kita mengatakan bahwa pengawasan terdiri dari tindakan-tindakan :
1.      Mencari keterangan tentang apa yang sedang dilaksanakan;
2.      Membandingkan hasil-hasil dengan harapan-harapan yang menyebabkan timbulnya tindakan;
3.      Menyetujui hasil-hasil atau menolak hasil-hasil dalam kasus mana perlu ditambahkan penambahan tindakan-tindakan perbaikan.[9]
C. PENGAWASAN DAN SISTEM
1. Tujuan Pengawasan
            Tujuan pengawasan menurut konsep sistem adalah membantu mempertahankan hasil atau output yang sesuai syarat-syarat sistem.
2. Pengawasan Menurut Paham Klasik
Menurut paham ini, pengawasan merupakan coercion atau compeling. Artinya proses yang bersifat memaksa-maksa agar kegiatan-kegiatan pelaksanaan dapat disesuaikan dengan rencana yang telah ditetapkan.
3. Pengawasan dan Konsep Sistem Cybernetic
Sistem cybernetic yaitu, system kesadaran yang memandang organisasi atau ekosistem sebagai mesin homeostatic yeng bekerja secara otomatis. Faham pengawasan sebagai suatu sistem cybernetic adalah seperti hermostat, yaitu sebuah sistem yang mengatur diri sendiri.
Karakteristik system cybernetic.
a.       Menentukan keseimbangan (equilibrium).
b.      Menerima perubahan-perubahan dalam lingkungan sebagai umpan balik terhadap sistem.
c.       Memindahkan informasi lingkungan eksternal ke dalam sistem.
d.      Melakukan tindakan korektif jika output di luar batas kesadaran.
4. Pengawasan Sebagai Suatu Sistem Informasi
            Pengertian pengawasan adalah menetapkan standar pelaksanaan pekerjaan, pengukuran  pelaksanaan dibandingkan dengan standar dan mengoreksi kesenjangan-kesenjangan maka proses pengawasan tidak akan terlaksana tanpa proses informasi. Oleh karena itu sistem pengawasan harus dipandang sebagai suatu sistem informasi, karena kecepatan dan ketepatan tidaklah korektif sebagai hasil akhir proses pengawasan bergantung pada macamnya informasi yang diterima.[10]
5. Jenis-Jenis Informasi Pengawasan
Umumnya informasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a.       Pemasaran pemakaian jasa/ barang yaitu informasi yang berhubungan dengan kemajuan rencana kebutuhan antara lain menyangkut kuota daerah pemasaran tenaga. Informasi pemasaran pada dasarnya adalah untuk mengukur rencana pemasokan dengan pelaksanaan.
b.      Pabrik yaitu informasi yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan terhadap rencana keuangan organisasi. Kategorinya menyangkut tenaga, bahan-bahan, investoris dan penyediaan barang.
c.       Personal yaitu informasi yang berhubungan dengan tindakan pelaksanaan kerja personal.
d.      Keuangan yaitu informasi yang berhubungan dengan pelaksanaan rencana keuangan, perputaran uang kas.
e.       Riset, pengembangan, dan permesinan yaitu informasi yang menyangkut hasil penelitian pengembangan dan teknik permesinan.
6. Pendekatan Sistem dan Pengawasan (Feed Forward)
            Proses pengawasan pada feedforward dasarnya merupakan proses analisis yang sangat hati-hati terhadap variabel-variabel masukan yang dikaitkan dengan output yang diharapkan. Input dimonitor dan diubah dalam rangka pencapaian hasil yang diinginkan sebelum terjadi kesenjangan. Syarat dasar pada sistem pengawasan adalah feedback. Proses yang berdasarkan pada prinsip feedback, bersifat setelah terjadi kesenjangan. Prinsip ini didasarkan pada data dan sistem informasi yang pada hakikatnya bersifat historis.
            Pengawasan modern berdasarkan pendekatan sistem dibangun berdasarkan empat ide pokok, yaitu.
a.       Integrasi, pengawasan, dan perencanaan.
b.      Mengaitkan sistem pengawasan dengan struktur organisasi, organisasi tidak akan mencapai sinergistik apabila bagian-bagian tidak saling mengaitkan dalam pencapaian keseluruhan tujuan.
c.       Sistem desain untuk pengambilan keputusan, dan bukan bersifat laporan post fasco.
d.      Informasi yang tepat pada waktunya adalah esensial.[11]
D. ALAT EVALUASI
            Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efesien. Kata “ alat “ biasa disebut juga dengan istilah ” instrumen “ .  dengan demikian maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.
            Dengan pengertian tersebut maka alat evaluasi di katakana baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik. Oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi.
a.       Teknik Nontes
Yang tergolongan teknik nontes adalah :
1.      Skala bertingkat (rating scale)
2.      Kuesioner (questionair)
3.      Daftar cocok (check list)
4.      Wawancara (interview)
5.      Pengamatan (observation)
6.      Riwayat hidup
b.      Teknik Tes
Apakah sebenarnya tes itu ? ada bermacam-macam rumusan tentang tes. Di daam bukunya yang berjudul Evaluasi Pendidikan,Drs. Amir Daien Indrakusuma mengatakan demikian :
“Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk  memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang,dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat”.
Selanjutnya, di dalam bukunya : Teknik-teknik Evaluasi, Muchtar Bukhori mengatakan:
“Tes ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid”.
Definisi terakhir yang dikemukakan di sini adalah definisi yang dikutipkan dari Webster’s Collegiate.
Test = any series of questions or eexercises or other means of measuring the skill,knowledge, intelligence, capacities of aptitudes or an individual or group.

Yang lebih kurang artinya demikian :
Tes adalah serentetan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individual atau kelompok.
Kutipan ini disajikan dalam buku : Encyclopedia of Educational Evaluation yang didalam buku tersebut diterangkan pula bahwa pengertiannya dipersempit dengan menyederhanakan definisi menjadi demikian:
Test is comprehensive assessment f an individual or to an antire program evaluation effort.
Artinya :
Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program.[12]

Dari bebrapa kutipan dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat pengumpul informasi tetapi jika disbandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan. Mengingat betapa pentingnya tes ini, maka uraian yang lebih terperinci akan disampaikan secara terpisah pada bab-bab lain.

Apabila rumusan yang telah disebutkan diatas dikaitkan dengan evaluasi yang dilakukan disekolah. Khususnya disuatu kelas, maka tes mempunyai fungsi ganda yaitu: untuk mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. Dalam bagian ni hanya akan diicarakan tes untuk mengukur keberhasilan siswa.

Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu :
·         Tes diagnostic, adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut guru dapat memberikan perilaku-perilaku yang tepat.
·         Tes formatif, adalah evaluasi yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah mengikuti sejumlah program.
·         Tes sumatif, adalah tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian suatu program atau program yang lebih besar. Biasanya dilaksanakan setiap akhir semester.[13]


IV.             KESIMP ULAN

Pengawasan adalah proses yang menjamin bahwa semua kegiatan yang dilakukan oleh organisasi dituntun ke arah pencapaian sasaran atau target yang direncanakan.[14] Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai.
Pada bagian atas kiri langkah-langkah berurutan dimulai. Pengawasan terdiri daripada suatu proses yang dibentuk oleh tiga macam langkah-langkah yang bersifat universal yakni :
Ø  Mengukur hasil pekerjaan.
Ø  Membandingkan hasil pekerjaan dengan standard dan memastikan perbedaan (apabila ada perbedaan).
Ø  Mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan.
Tujuan pengawasan menurut konsep sistem adalah membantu mempertahankan hasil atau output yang sesuai syarat-syarat sistem.
      Pengertian pengawasan adalah menetapkan standar pelaksanaan pekerjaan, pengukuran  pelaksanaan dibandingkan dengan standar dan mengoreksi kesenjangan-kesenjangan maka proses pengawasan tidak akan terlaksana tanpa proses informasi.
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efesien. Kata “ alat “ biasa disebut juga dengan istilah ” instrumen “ .  dengan demikian maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis susun, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan penulis untuk memperbaiki makalah ini. Penulis juga minta maaf apabila ada penulisan atau ulasan yang salah atau kurang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.









     DAFTAR PUSTAKA

Arikunto ,Prof, Dr. Suharsimi,2001,Dasar-dasar evaluasi pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara.
Fatah,Drs. Nanang,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.
Sukiswa,Drs. Iwa,1986,Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan,Bandung:Tarsito.
Winardi,1977,Asas-asas Manajemen,Bandung:Offset Alumni.


[1] Iwa Sukiswa,1986,Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan,Bandung:Tarsito.hlm.53
[2] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.101
[3] Winardi,1977,Asas-asas Manajemen,Bandung:Offset Alumni.hlm.380
[4] Winardi,1977,Asas-asas Manajemen,Bandung:Offset Alumni.hlm.379
[5] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya
[6] Winardi,1977,Asas-asas Manajemen,Bandung:Offset Alumni.hlm.383
[7] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.101
[8] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.102
[9] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.386
[10] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.102
[11] Nanang Fatah,2008,Manjemen Pendidikan,Bandung:Remaja Rosdakarya.hlm.103
[12] . Suharsimi Arikunto,2001,Dasar-dasar evaluasi pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara. Hlm. 25-35

[13] Suharsimi Arikunto,2001,Dasar-dasar evaluasi pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara. Hlm. 25-40
[14] Iwa Sukiswa,1986,Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan,Bandung:Tarsito.hlm.53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar